Pengertian Ilmu Pengetahuan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu. Dilansir dari Australian Acamedy of Science, ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang telah teruji kebenarannya dan disusun secara sistematis berdasarkan dengan metode ilmiah. Adapun pengertian ilmu menurut para ahli sebagai berikut :
1. Ilmu Menurut Mohammad Hatta
Ilmu adalah pengetahuan mengatur tentang suatu pekerjaan umum, karena akibat dalam suatu kelompok masalah yang sifatnya sama baik dilihat dari kedudukannya atau hubungannya yang tampak dari luar maupun dalam.
2. Ilmu Menurut The Liang Gie
Ilmu adalah rangkaian kegiatan manusia yang rasional dan kognitif dengan metode berupa macam - macam prosedur dan susunan langkah yang kemudian akan menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai berbagai gejala kealaman, kemasyarakatan atau individu untuk tujuan mencapai kebenaran yang sebenar - benarnya, mendapatkan pemahaman dan memberikan penjelasan atau melakukan penerapan.
3. Ilmu Menurut Minto Rahayu
Ilmu adalah pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dan berlaku umum.
4. Ilmu Menurut NS. Asmadi
Ilmu adalah suatu sekumpulan pengetahuan yang padat dan proses mengetahui melalui penyelidikan yang sistematis dan terkendali.
Baca Juga : Kontak Pertama Islam dengan Ilmu Pengetahuan dan Filsafat Yunani
5. Ilmu Menurut Harold H. Titus
Ilmu adalah common science yang diatur serta diorganisasikan dengan mengadakan pendekatan terhadap benda atau peristiwa dengan menggunakan cara atau metode observasi yang teliti serta kritis.
6. Ilmu Menurut Dr. H. Ali As'ad
Ilmu adalah sebuah sifat yang apabila dimiliki seseorang maka akan menjadi jelas mengenai apa yang terlintas didalam pengertiannya.
7. Ilmu Menurut Nazir
Ilmu adalah suatu pengetahuan yang memiliki sifat umum serta sistematis, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil - dalil tertentu menurut kaidah - kaidah umum.
8. Ilmu Menurut Popper
Ilmu adalah tetap dalam keseluruhan dan hanya mungkin direorganisasi.
9. Ilmu Menurut Ralph Ross & Ernest Van Den Hag
Ilmu adalah sesuatu yang memiliki bentuk yang empiris, rasional, umum dan sistematis, dan yang dimana keempatnya itu serentak.
10. Ilmu Menurut Dr. H. M. Gade
Ilmu adalah hasil dari sebuah pemikiran mengenai batas - batas kemungkinan pengetahuan pada manusia.
Baca Juga : Filsafat Ketuhanan dan Jiwa (Ya'qub Ibnu Ishaq Al - Kindi)
11. Ilmu Menurut Prof. Dr. A. Baiquni
Ilmu adalah general consensus dari masyarakat yang terdiri dari scientist.
12. Ilmu Menurut J. Haberer
Ilmu adalah suatu hasil aktivitas manusia yang merupakan kumpulan teori, metode dan praktek dan menjadi pranata dalam masyarakat.
13. Ilmu Menurut D. Bernal
Ilmu adalah suatu pranata atau metode yang membentuk keyakinan mengenai alam semesta dan manusia.
14. Ilmu Menurut E. Cantote
Ilmu adalah suatu hasil aktivitas manusia yang mempunyai makna dan metode.
15. Ilmu Menurut Schulz
Ilmu mencakup logika, adanya interpretasi subjektif dan konsistensi dengan realitas sosial.
Baca Juga : Pengertian Ilmu Hadis, Macam - Macam Dan Manfaat Mempelajari Ilmu Hadis
16. Ilmu Menurut Dr. Maurice Bucaille
Ilmu adalah kunci untuk mengungkapkan segala hal dalam bentuk apapun, baik dalam jangka waktu yang lama maupun jangka pendek.
17. Ilmu Menurut John G. Kemeny
Ilmu adalah semua pengetahuan yang dikumpulkan dengan metode ilmiah sebagai prosedur.
18. Ilmu Menurut Prof. Dr. Syed Naquib Alattas
Ilmu adalah ketibaan makna dalam diri seseorang yang dapat menyebabkan perubahan berdasarkan ilmu yang dicapai atau diperoleh.
19. Ilmu Menurut Harsojo
Ilmu adalah sekumpulan akumulasi pengetahuan yang disistematiskan.
20. Ilmu Menurut Karl Pearson
Ilmu adalah keterangan yang stabil & komprehensif tentang suatu fakta dari pengalaman dengan istilah yang sederhana.
Baca Juga : Rekomendasi Buku - Buku Terbitan Diva Press Dan Partner
21. Ilmu Menurut Izzuddin Taufiq
Ilmu adalah penelusuran informasi atau data melalui sebuah pengamatan, pengkajian dan eksperimen, yang bertujuan untuk menetapkan hakikat, landasan dasar maupun asal usulnya.
22. Ilmu Menurut Ashely Montagu
Ilmu adalah pengetahuan dalam satu sistem yang berasal dari studi, pengamatan juga percobaan untuk menentukan dasar prinsip tentang suatu hal yang sedang dikaji.
23. Ilmu Menurut Thomas Kuhn
Ilmu adalah himpunan kegiatan yang dapat menghasilkan banyak penemuan, baik dalam bentuk penolakan maupun pengembangannya.
24. Ilmu Menurut Poespoprodjo
Ilmu adalah sebuah proses perbaikan diri secara berkesinambungan yang terdiri dari perkembangan teori dan uji empiris.
25. Ilmu Menurut Afanasyef
Afanasyef adalah seorang pemikir marxist dari Rusia. Ia mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan manusia tentang alam, pikiran, dan masyarakat. Ia mencerminkan alam dan berbagai konsep, kategori dan hukum - hukum, yang mana ketetapan dan kebenarannya diuji oleh pengalaman praktis.
Baca Juga : Hakikat Asal Usul Tasawuf
Diatas adalah pengertian ilmu adapun pengertian pengetahuan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui. Menurut Prof. Masri Mansoer pengetahuan adalah abstraksi/gambaran oleh akal terhadap realitas/yang ada melalui proses berpikir. Para ahli mencoba untuk mendefiniskan pengetahuan diantaranya :
1. Pengetahuan Menurut Pudjawidjana
Pengetahuan adalah reaksi dari setiap orang dan diterima dengan rangsangan terhadap alat terkait kegiatan indera penginderaan jauh di objek tertentu.
2. Pengetahuan Menurut Notoadmojo
Pengetahuan adalah ide atau hasil dari sebuah aktivitas /prilaku manusia yang telah terjadi setelah penginderaan dari objek tertentu.
3. Pengetahuan Menurut Sumadi
Pengetahuan adalah kemampuan seseorang dalam mengingat fakta, simbol, proses, dan teori.
Dari penjelasan tentang ilmu dan pengetahuan diatas bisa diambil kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan adalah sekumpulan data (pengetahuan) yang tersistematis guna menerangkan atau menjelaskan sesuatu.
Baca Juga : Menghormati Guru Bagi Penuntut Ilmu
Bentuk - Bentuk Pengetahuan Dan Ukuran Kebenaran
Dalam pengetahuan terdapat proses berpikir. Berpikir adalah aktivitas akal untuk menerangkan atau menjelaskan sesuatu guna menemukan kebenaran. Adapun secara garis besar bentuk - bentuk pengetahuan berdasarkan sumber dan metodenya terbagi menjadi tiga, yaitu :
1. Pengetahuan Ilahiyah dan Pengetahuan Insaniyah.
2. Pengetahuan Rasionalisme dan Empirisme.
3. Pengetahuan Ilmiah dan bukan ilmiah.
Sebagaimana dijelaskan diatas, bahwa berpikir adalah aktivitas akal guna menemukan kebenaran. Kebenaran adalah keadaan yang sesuai dengan sesungguhnya. Namun, kebenaran menurut seseorang belum tentu kebenaran menurut orang lain, terdapat subjektivitas disana. Karena hal itu, diperlukan suatu kriteria atau ukuran kebenaran. Terdapat tiga jenis kebenaran, yakni :
1. Kebenaran epistemologi, adalah kebenaran yang berkaitan dengan pengetahuan.
2. Kebenaran ontologis, adalah kebenaran yang berkaitan dengan sesuatu yang ada atau diadakan.
3. Kebenaran semantis, adalah kebenaran yang berkaitan dengan bahasa dan tutur kata.
Baca Juga : Agama dan Stratifikasi Sosial (Pelapisan Sosial)
Adapun secara teori, kebenaran dapat dibagi menjadi empat, yaitu:
1. Teori Korespondensi (Correspondence Theory of Truth)
Teori kebenaran korespondensi kadang disebut juga accordance theory of truth, adalah teori kebenaran yang berpandangan bahwa pernyataan - pernyataan adalah benar jika berkorespondensi terhadap fakta atau pernyataan yang ada di alam atau objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Teori kebenaran korespondensi ini biasa dianut oleh pengikut realisme. Diantara pelopor teori ini seperti Plato, Ariestoteles, Moore dan Ramsey. Contoh sederhana dari teori kebenaran korespondensi ini adalah, "Surabaya adalah ibu kota Jawa Timur." Pernyataan ini benar karena fakta atau kenyataannya Surabaya merupakan ibu kota Jawa Timur.
2. Teori Koherensi (Coherence Theory of Truth)
Menurut teori koherensi, kebenaran adalah jika pernyataan itu koheren atau tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya yang sudah terbukti benar. Contohnya, matahari terbit dari sebelah timur. Hal itu dianggap benar karena secara konsisten matahari selalu terbit dari timur. Oleh sebab itu teori koherensi disebut juga teori konsistensi.
Perbedaan antara teori koherensi dengan teori korespondensi terletak pada pembuktian kebenarannya. Pada teori korespondensi kebenaran itu terletak pada ada tidaknya hubungan pernyataan dengan fakta yang ada. Sedangkan pada teori koherensi kebenaran terletak pada ada tidaknya konsistensi antara pernyataan dengan postulat. Sebagai contoh tadi "matahari terbit dari arah timur." secara koherensi pernyataan ini benar mau itu besok, lusa dan dihari kemudian pun kebenaran tentang matahari terbit dari arah timur tidak terhapuskan, hal ini dikarenakan adanya konsistensi matahari tersebut yang selalu terbit dari timur, yang akhirnya melahirkan postulat. Sedangkan menurut teori korespondensi, hal ini bisa saja salah karena bisa jadi besok secara faktanya matahari terbit dari barat. Sebagaimana yang kita ketahui, teori korespondensi tidak akan mempercayai kebenaran jika faktanya belum ada.
3. Teori Pragmatis (The Pragmatic Theory of Truth)
Dalam menentukan kebenaran teori pragmatis berbeda dengan dua teori yang telah disebut. Jika pada teori korespondensi dasar kebenarannya adalah fakta objektif, dan pada teori koherensi dasar kebenarannya adalah konsistensi logis maka pada teori pragmatis dasar kebenarannya adalah manfaat praktis. Sesuatu dianggap benar jika memiliki manfaat bagi kehidupan. Contoh, neraka itu ada atau benar. Jika berdasarkan teori sebelumnya, kebenaran tentang adanya neraka ini tidak bisa dibuktikan karena tidak ada bukti empirisnya. Namun, menurut teori pragmatis neraka itu bisa dianggap benar adanya karena memiliki manfaat untuk menurunkan kejahatan manusia.
Baca Juga : Rekomendasi Buku Inspirasi, Bisnis, Parenting, Psikologi dan Pengembangan Diri Umum
4. Teori Kebenaran Ilahiah atau Agama
Teori kebenaran ilahiah atau agama melandaskan suatu kebenaran berdasarkan firman tuhan atau ketentuan agama. Teori ini jelas hanya dianut oleh pengikut yang beragama. Sebagai contoh, dalam islam dilarang untuk berhubungan badan sebelum menikah. Berhubungan badan sifatnya manusiawi, tapi karena agama memberikan batasan agar tidak terjadi kemudharatan umat manusia yang dimana tuhan maha tahu, maka berhubungan badan sebelum menikah itu adalah salah dan berdosa besar dalam pandangan agama.