Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Cerpen] Bisikan di Alam Kubur - Risma Nailul Muna

Cerpen bisikan di alam kubur
Cerpen Bisikan di Alam Kubur.

Bisikan di Alam Kubur

Karya: Risma Nailul Muna 


Langit mendung menggantung di atas tanah perkuburan. Angin sore bertiup lirih, menghempaskan dedaunan kering yang berserakan di tanah. Aroma tanah basah bercampur wangi bunga tabur memenuhi udara. Isak tangis masih terdengar, meskipun pelan. Satu per satu mereka melangkah pergi, meninggalkan jasad yang kini sendirian dalam liang lahat.

Jasad itu adalah Ahmad Zaki, seorang pria berusia 45 tahun yang meninggal karena serangan jantung mendadak saat sedang menunaikan sholat subuh di Masjid Al-Muhajirin. Wajahnya tampak tenang saat terakhir kali keluarga melihatnya. Namun kini, di dalam liang lahat, keheningan mulai menyelimuti.

Tukang kubur mengambil papan penutup, menaruhnya perlahan di atas jasad yang telah dibaringkan menghadap kiblat. Tanah mulai turun, berguguran dari cangkul-cangkul yang diayunkan tanpa ragu. Ketika tanah sudah separuh menutup liang, si tukang kubur naik, melompat ke atas, lalu menimbun sisanya dengan lebih cepat. Setelah beberapa saat, tanah pun rata. Makam baru itu kini berdiri sunyi.

Namun di dalam, ada suara lirih yang tak terdengar oleh mereka yang melangkah pulang.

"Adik... jangan tinggalkan abang... abang takut..." suara itu bergema, serak dan penuh ketakutan. Tapi tak ada yang bisa mendengar. Adiknya, Rahman, telah beranjak pergi, menahan isak dan tangis di dadanya.

"Sayang... tunggu abang sayang..." suara itu kembali terdengar, memanggil sang istri, Aisyah, yang kini berjalan menjauh, membawa cerek dan daun pandan. Ia menahan tangis, menatap ke tanah, tak ingin menoleh lagi. Seberat apapun hatinya, ia tahu, tugasnya di sini sudah selesai.

Hening.

Baca Juga: [Cerpen] Penjaga Tak Terlihat : Cerpen Fiksi Inspiratif Tentang Perubahan Hidup - Mushpih Kawakibil Hijaj

Kegelapan mulai menyelimuti liang lahat. Tidak ada cahaya, tidak ada suara, hanya kehampaan yang begitu pekat. Namun, tiba-tiba...

Duk. Duk. Duk.

Bunyi langkah kaki terdengar. Berat. Menggelegar. Jauh lebih kuat dari langkah mereka yang tadi mengantarkan jenazah. Derak rantai yang terseret menggema di ruangan sempit itu. Udara yang semula dingin kini terasa semakin menekan. Dua sosok muncul, tinggi besar, hitam pekat dengan mata biru yang menyala tajam.

Ahmad Zaki yang semula dalam ketakutan, kini duduk dengan kaki melunjur, tubuhnya gemetar hebat. Napasnya terasa berat, meskipun ia sudah bukan lagi manusia bernyawa. Malaikat Munkar dan Nakir berdiri tegap di hadapannya, wajah mereka tak menunjukkan belas kasihan.

"Hai manusia!" suara itu menggelegar, membuat roh yang masih duduk terhenyak. Tubuhnya menggigil dalam ketakutan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Apa pendapatmu tentang Muhammad bin Abdullah?" suara salah satu malaikat itu menusuk, tak memberi ruang untuk berpikir lama.

Roh itu menggigil, mencoba mengingat. Segala ilmu yang pernah dipelajarinya berkelebat di benaknya. Ia menelan ludah yang tak lagi ada, lalu dengan suara bergetar menjawab, "Dia... dia adalah hamba Allah... Dia pesuruh Allah... Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya."

Baca Juga: [CERPEN] Steva Oh Steva - Fathul Mubin

Hening. Waktu seakan berhenti. Kedua malaikat saling bertukar pandang.

"Kami sudah tahu kamu akan menjawab seperti itu. Kami hanya ingin memastikan bahwa kamu adalah orang yang baik."

Seketika, tubuh roh itu terasa lebih ringan, meskipun ketakutan masih belum sepenuhnya hilang. Salah satu malaikat kemudian berkata,

"Tidurlah kamu di dalam kubur ini seperti tidurnya seorang pengantin."

Perlahan, sesuatu yang tak terlihat mulai mengubah liang lahat itu. Ruangan yang sempit kini melebar. Cahaya lembut menyelusup masuk, menggantikan kegelapan yang menyesakkan. Wangian yang tak pernah dihirup semasa hidup memenuhi udara. Hatinya menjadi lebih tenang.

Baca Juga: [Cerpen] Mengenalmu Adalah Takdir - Intan

Namun di luar sana, dunia tetap berjalan. Orang-orang yang tadi meneteskan air mata sudah kembali ke rumah masing-masing. Istri yang tadi menangis, kini mengeringkan air matanya. Anak-anak yang tadi memandangi kubur, kini mulai berbicara tentang kehidupan. Bahkan tanah di atas makamnya perlahan-lahan mengering seiring waktu.

Di dalam tanah yang sunyi itu, roh Ahmad Zaki yang baru saja melewati ujian pertama kini menanti perjalanan berikutnya. Entah dalam nikmat atau dalam siksa, ia telah memulai kehidupan yang tak mungkin kembali. 

Angin kembali berhembus. Suara lirih terdengar di kejauhan.

"Hari ini kita sedekahkan Al-Fatihah untuk orang lain. Esok lusa, mungkin orang pula yang menyedekahkan Al-Fatihah untuk kita."

Selesai.

eBook Cerita Pendek Motivasi Gratis / Free to Read Yang Mungkin Kamu Minati :

Silakan dapatkan eBook diatas secara gratis. Mohon bantuan share website ini supaya berkembang dan insyaallah lebih banyak pembaca yang memperoleh manfaat✨.

Memuat postingan...
Diberdayakan oleh Blogger.