Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

Kajian Hadis Arbain: Hadis Ke 2: Tingkatan Agama (Islam, Iman dan Ihsan) - Mushpih Kawakibil Hijaj

Kajian hadis arbain hadis ke 2
Kitab al-Arbain an-Nawawiyyah

Hadis ke 2 : [Tingkatan Agama : Islam, Iman dan Ihsan]

‌‌ ‌‌الحديث الثاني : [مراتب الدين : الإسلام والإيمان والإحسان]

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أيضًا، قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ، أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " الْإِسْلَامُ : أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ". قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ : فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ. قَالَ: " أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ". قَالَ: صَدَقْتَ. قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: " أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ ". قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ؟ . قَالَ: " مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ ". قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا؟ . قَالَ: " أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ ", قال ثُمَّ انْطَلَقَ، فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ لِي: " يَا عُمَرُ، أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ . قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: فإنهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.[1]

Terjemahan :

“Dari Umar radhiyallahuanhu juga, dia berkata : Ketika kami sedang berada disisi Rasulullah SAW pada suatu hari, tiba-tiba muncul dihadapan kami seorang pria dengan pakaian yang sangat putih dan rambut yang sangat hitam. Tidak ada tanda perjalanan yang tampak padanya, dan tidak ada dari kami yang mengenalnya. Sampai akhirnya ia duduk di hadapan Nabi SAW, lalu menyandarkan kedua lututnya pada lutut Nabi, dan meletakkan telapak tangannya di atas paha Nabi, lalu berkata, 'Wahai Muhammad, beritahukanlah aku tentang Islam.' Rasulullah SAW pun menjawab, 'Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika kamu mampu melakukannya.' Pria itu berkata, 'Benar.' Maka kami heran padanya, ia bertanya dan kemudian membenarkan jawabannya. Kemudian ia bertanya lagi, 'Beritahukanlah aku tentang iman.' Rasulullah SAW menjawab, 'Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir, baik dan buruk.' Pria itu berkata, 'Benar.' Kemudian ia bertanya lagi, 'Beritahukanlah aku tentang ihsan.' Rasulullah SAW menjawab, 'Ihsan adalah kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.' Pria itu bertanya lagi, 'Beritahukanlah aku tentang hari kiamat.' Rasulullah SAW menjawab, 'Yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.' Pria itu bertanya lagi, 'Beritahukanlah aku tentang tanda-tanda kiamat.' Rasulullah SAW menjawab, 'Tanda-tanda kiamat adalah ketika seorang wanita (budak) melahirkan tuannya, dan kamu melihat orang-orang yang bertelanjang kaki dan dada, miskin, yang penggembala kambing berlomba-lomba dalam membangun gedung-gedung tinggi.' Kemudian pria itu pergi, dan aku (Umar) pun terdiam sejenak. Lalu Rasulullah SAW bertanya kepadaku, 'Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa yang bertanya itu?' Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Rasulullah SAW berkata, 'Itu adalah Jibril, yang datang untuk mengajarkan agama kalian.'" (HR. Muslim).

Hadis ini berisi informasi dan penjelasan dari rasulullah saw. ketika beliau ditanya tentang islam, iman, ihsan dan tanda-tanda hari kiamat. Imam Daqiq al-‘Ied menyebutkan bahwa hadis ini seperti ibunya sunnah. Sebagaimana surat Al-Fatihah yang disebut ibunya Al-Qur’an.[2] Karena didalam hadis ini terkandung landasan utama bagi seorang hamba dalam beragama.

Islam

Rasulullah saw. menjelaskan bahwa Islam adalah bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menunaikan haji ke Baitullah bagi yang mampu. Penjelasan inilah yang menjadi dasar penetapan rukun islam yang lima:

Pertama, Syahadat. Yaitu mengikrarkan dengan lisan dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa tidak ada tuhan selain Allah Swt. dan nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah. Hal itu termaktub dalam dua kalimat syahadat:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Kedua, Shalat. Yaitu shalat lima waktu yang diwajibkan. Adapun shalat sunnah, meskipun termasuk dalam bagian ajaran Islam namun tidak termasuk dari salah satu rukun Islam.

Ketiga, menunaikan Zakat. Yaitu bagian tertentu dari harta yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim apabila telah mencapai syarat yang ditetapkan dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (asnaf).[3] Dalam Q.S. At-Taubah ayat 60, Allah berfirman :

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ.

Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.[4]

Keempat, berpuasa di bulan Ramadhan. Yaitu kewajiban menahan diri dari hal – hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, berhubungan suami istri dan lain – lain, dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat karena Allah selama bulan ramadhan.

Kelima, melaksanakan Haji. Yaitu berkunjung ke baitullah dengan tujuan melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. sesuai dengan waktu dan aturan yang telah ditentukan, yang diwajibkan bagi setiap muslim yang mampu secara fisik, bekal dan kendaraan untuk menempuh perjalanannya.

Iman

Rasulullah saw. menjelaskan bahwa iman adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir, baik dan buruk. Penjelasan inilah yang menjadi dasar penetapan rukun iman yang enam:

Pertama, iman kepada Allah Swt. adalah membenarkan bahwasanya Allah yang maha suci itu benar-benar ada, memiliki sifat keagungan dan kesempurnaan, serta suci dari segala kekurangan. Dia adalah Esa, Yang Haq, tempat bergantung (Ash-Shamad), Tunggal, Pencipta seluruh makhluk, dan berkuasa atas segala sesuatu sesuai kehendak-nya. Kedua, iman kepada malaikat, adalah membenarkan bahwasanya para malaikat adalah hamba-hamba Allah, yang dimuliakan, yang tidak mendahului Allah dengan kata-kata dan mereka selalu mengerjakan segala perintah Allah Swt.[5] Ketiga, iman kepada kitab-kitab Allah, adalah meyakini bahwasanya kitab-kitab itu adalah kalamullah (firman Allah), dan segala yang terkandung di dalamnya adalah kebenaran. Adapun kitab-kitab Allah adalah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s., Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud a.s., Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Keempat, iman kepada rasul-rasul Allah, adalah meyakini bahwasanya mereka adalah utusan Allah yang jujur dan meyakini bahwa mereka telah menyampaikan seluruh perkara yang Allah perintahkan kepada mereka untuk disampaikan serta meyakini adanya mukjizat yang mendukung mereka untuk membuktikan kebenaran. Kelima, iman kepada hari akhir, adalah meyakini adanya hari kiamat berserta seluruh kejadian atau peristiwa yang menyertainya, seperti adanya hari kebangkitan (Yaumul Ba’ts), hari perhitungan (Yaumul Hisab), hari penimbangan (Yaumul Mizan), meyakini adanya jembatan (Shirath), Surga dan Neraka serta segala sesuatu yang telah disebutkan dalam dalil atau keterangan yang shahih. Keenam, iman kepada takdir baik dan buruk, adalah meyakini bahwasanya Allah mengetahui ukuran dan waktu segala sesuatu sebelum menciptakan sesuatu itu. Meyakini bahwasanya Allah menciptakan apa yang telah ditetapkan dalam kehendaknya untuk ada dan segala sesuatu yang baru terjadi berasal dari ilmu, kekuasaan dan kehendaknya, baik atau buruk.  Serta meyakini bahwasanya apa yang ditakdirkan Allah Swt. menimpamu tidak mungkin luput darimu, dan apa yang ditakdirkan Allah Swt. luput darimu tidak mungkin menimpamu.

Ihsan

Rasulullah saw. menjelaskan bahwa ihsan adalah kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Berdasarkan penjelasan tersebut bisa kita  maknai bahwa ihsan merujuk pada kekhusyukan dan kesungguhan dalam beribadah, dimana seorang hamba berusaha menyempurnakan ibadahnya dengan menjaga hak-hak Allah, merasakan pengawasannya, serta menghadirkan kebesaran dan keagungannya dalam  beribadah.

Tanda-Tanda Hari Kiamat

Rasulullah saw. ketika ditanya tentang hari kiamat, beliau menjawab bahwa yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu daripada yang bertanya. Hal ini dikarenakan perkara tentang hari kiamat adalah rahasia Allah Swt. Kapan terjadinya tidak ada satupun makhluk yang mengetahui. Bahkan Malaikat Jibril yang diutus untuk bertanya dalam hadis ini juga tidak mengetahui. Sehingga beliau mengajukan pertanyaan kembali, yaitu tentang tanda-tanda hari kiamat. Maka Rasulullah saw. menjawab tanda-tanda kiamat adalah ketika seorang wanita (budak) melahirkan tuannya, dan kamu melihat orang-orang yang bertelanjang kaki dan dada, miskin, yang penggembala kambing berlomba-lomba dalam membangun gedung-gedung tinggi.

Tanda hari kiamat yang pertama adalah ketika seorang wanita (budak) melahirkan tuannya. Dalam hal ini, terdapat beberapa penafsiran. Pertama, ada yang menafsirkan hal ini berkaitan dengan semakin banyaknya perempuan yang menjadi budak karena dominasi kaum muslimin terhadap negeri-negeri kafir. Sehinggan anak-anak yang dilahirkan dari budak-budak perempuan tersebut akan menjadi tuan karena kedudukan dan kehormatan ayahnya yang seorang muslim. Kedua, ada yang menafsirkan hal ini berkaitan dengan semakin rusaknya keadaan manusia, dimana seorang tuan akan menjual belikan perempuan (budak) yang telah melahirkan anaknya. Sehingga, perempuan (budak) tersebut bisa berpindah-pindah tangan, sampai akhirnya bisa di beli oleh anaknya yang tidak menyadari bahwa perempuan (budak) itu adalah ibunya sendiri. Sehingga anak yang dilahirkan budak perempuan itu menjadi tuannya. Ketiga, ada yang menafsirkan hal ini berkaitan dengan semakin banyaknya anak durhaka, yang memperlakukan ibunya seperti seorang tuan yang memperlakukan budaknya, dengan suruhan, cacian dan hinaan. Ibu tersebut seakan-akan melahirkan tuannya.

Tanda hari kiamat yang kedua adalah semakin banyak orang-orang yang dulunya bertelanjang kaki, dada, miskin, dan penggembala kambing karena hal tertentu yang membuat mereka akhirnya bisa berlomba-lomba membangun gedung-gedung tinggi. Sehingga mereka membangga-banggakan diri dengan hal tersebut.

Itulah pembahasan hadis kedua dalam kitab al-Arbain an-Nawawiyyah tentang islam, iman, ihsan dan tanda-tanda hari kiamat.



[1] Imam Nawawi & Ibnu Rajab, al – Arba’un an – Nawawiyah ma’a Ziyadat Ibn Rajab, (t.t.: t.p., t.th.), h. 5. Disalin dari Maktabah Syamilah, tanggal terbit 4 Rajab 1440 H. 

[2] Ibnu Daqiq al-‘Ied, Syarh al-Arbain an-Nawawiyah fi al-Ahadits ash-Shahihah an-Nabawiyah , (t.t.: Muassasah ar-Rayan, 1424 H/2003 M), h. 29. Disalin dari Maktabah Syamilah, tanggal terbit 8 Dzulhijjah 1431 H.  

[3] https://baznas.go.id/zakat, diakses 26 Januari 2025.

[4] https://quran.nu.or.id/at-taubah/60, diakses 26 Januari 2025.

[5] Ibnu Daqiq al-‘Ied, Syarh al-Arbain an-Nawawiyah fi al-Ahadits ash-Shahihah an-Nabawiyah , (t.t.: Muassasah ar-Rayan, 1424 H/2003 M), h. 30. Disalin dari Maktabah Syamilah, tanggal terbit 8 Dzulhijjah 1431 H. 

Memuat postingan...
Diberdayakan oleh Blogger.