![]() |
Puisi wangimu. |
WANGIMU
Di tepian senja yang meredup,
masih kuhirup bayangmu di udara.
Jejak wangimu yang dulu lekat,
kini hanya bisu dalam kenangan.
Aku mencarinya di embun pagi,
pada mawar yang mekar perlahan.
Namun, tak satu pun yang sama,
tak ada yang mengulang hadirmu.
Angin berbisik membawaku jauh,
menyusuri jalan yang pernah kita lalui.
Tapi harum yang pernah kusinggahi,
tak lagi kudapati, tak lagi dapat kembali.
Sesak, menghimpit dada yang rapuh,
seperti belati yang menari-nari di hati.
Rindu menggeram, marah menggelegak,
perih mencabik, membakar memoar ingatan.
Mengapa wangimu tak bisa kularung?
Mengapa ia menempel di sela jiwaku?
Aku membencinya, aku mendambanya,
seperti api yang membakar diri sendiri.
Ah, andai wangi itu bisa kulupakan,
atau kau bisa kembali…
tapi takdir telah tertawa sinis,
Ha-ha-ha, rasakan kepedihan rindu ini,
_ucap takdir dengan gagahnya_
Dan kau meninggalkanku dalam aroma luka.~
-senjani,
17 Feb, 5 years ago.
Baca Juga Puisi Lain Di Penadiksi: